blog job

Thursday, August 10, 2006

Perkenalkan Saya

Perkenalkan saya
Perempuan
27 tahun

Ini teman saya
Perempuan
28 tahun

Coba bayangkan sejenak

Sosok saya...

Dan sosok teman saya


...



Bandingkan dengan



Perkenalkan saya
Perempuan
27 tahun
WNI keturunan Cina
Katolik

Ini teman saya
Perempuan
28 tahun
WNI keturunan Padang
Islam

Bayangkan sosok kami berdua
Tradisi kami berdua
Pastinya lebih banyak persepsi di imajinasimu
Entah apa itu

Gila...
Betapa suku dan agama tiba-tiba menjadi dinding pemisah
Tapi begitulah adanya
:)

Saturday, July 15, 2006

MENUNGGU


Perempuan duduk di tepi jendela
Di dalam ruangan gelap
Hanya mengandalkan cahaya dari jendela

Tangannya memegang selembar foto
Foto sosok lelaki
Yang kusut di sana-sini
Tanda sudah dipegang terlalu lama

Ia memandang keluar jendela
Menikmati pemandangan yang hiruk-pikuk
Hidup yang begitu hidup

Tiba-tiba ia menoleh
Terusik oleh kehadiran orang lain
Matanya mendadak kosong
Ia mengenali sosok itu
Sang lelaki

Lelaki tersenyum
“Kamu masih di sini?”

“Iya, aku masih di sini.”

“Mengapa?”

“Menunggu.”

Lelaki melirik sekilas ke tangan perempuan, melirik foto yang digenggamnya
Senyumnya merekah lagi
“Itu aku.”

“Bukan. Ini bukan kamu.”

Lelaki menatap heran
“ Itu aku. Waktu itu aku yang mengambilnya sendiri dan mengirimkannya padamu. Itu aku.”

Perempuan menatap lelaki
Menyusuri wajahnya lekat-lekat
Ia tersenyum
Dan berkata lembut
“ Ini bukan gambar kamu. Ini gambar hati, ada harapan dan keinginan di dalamnya.”

Lelaki tambah heran
“Tapi itu fotoku. Itu aku…”

“Mataku mengatakan ini kamu, tapi hatiku memastikan ini bukan kamu. Jangan melihat dengan mata, gunakan hatimu. Ini bukan kamu.”

Lelaki terdiam
Tersadar
Mengerti maksudnya

“Kamu benar. Itu bukan aku.”

“Bukan kamu yang aku tunggu. Maaf.”
Perempuan menoleh lagi keluar jendela

Lelaki terdiam lagi
Sorot matanya sedih tak berdaya
Ia melangkah pergi
Mendadak ia menoleh
Menatap perempuan
Bibirnya terbuka hendak berkata-kata
Tetapi ditahannya
Kemudian ia pergi

Perempuan menoleh
Menangkap bayangan yang pergi
Hatinya perih sesaat
Kemudian bibirnya tersenyum

Ia menatap lagi keluar jendela
Menikmati pemandangan hiruk-pikuk di luar sana

He's Just Not That Into You part 1: Introduction


Suatu malam, gw janjian dengan best friend, pasangan sapo tahu gw di EX. "Oke Ci, kita ketemuan di aksara ya." Akhirnya gw nyampe duluan... Sambil nunggu Cici, gw browsing buku2 design. Nggak lama lagi Cici nongol, dengan senyum sumringah dia nanya,"Dah ketemu bukunya?" "Belum...gw ga tau di rak yang mana." Dengan langkah sigap Cici langsung melangkah ke salah satu rak buku (sampai sekarang aja gw nggak tahu di rak yang mana), menyambar salah satu buku dan langsung ke kasir. Sambil tersenyum nakal, dia menatap gue," Lo harus baca ni buku. Biar lo sadar. It's so you, my dear." Gw cuma nyengir. Antara miris (karena hati gue yang lagi pecah berantakan) dan terharu, Cici mau ngerogoh kantongnya untuk membelikan gw buku import yang harganya nggak terbilang murah cuma karena Cici prihatin sama kondisi gw.

Selesai bayar, gw dan Cici pindah ke Chopstix. Selesai order macam2 (yang akhirnya kita sesali karena porsinya banyak banget dan nggak habis ), gw mulai buka2 buku barunya. "Hil, inggrisnya nggak susah kok, cukup gampang," kata Cici menghibur gw. Kemampuan bahasa inggris gw nggak gitu bagus, makanya gw suka malas baca buku import. Beda sama mahluk yang duduk di depan gw. Secara profesinya sebagai copywriter di multinational agency, bahasa inggrisnya ngecipris (apalagi kalo lagi 'seneng' hahaha).

He's Just Not That Into You, judulnya. Covernya didominasi warna pink dengan gambar answering machine yang menunjukkan 0 messages. Ukurannya nggak terlalu besar dan nggak tebal juga, paslah untuk dibawa kemana-mana, jadi bisa mencicil. Kebiasaan gw adalah membaca dari daftar isi. Mata gw mulai menelusuri daftar isinya... and you know what... tiap 2 detik kata 'anjrit' keluar dari mulut gw. Gila, baru daftar isi udah ditampar berkali-kali... gimana baca isinya!

Gw mulai melihat-lihat isinya. Untungnya buku ini struktur penulisannya berbentuk Q&A. jadi nggak usah ngurutin satu-satu. Benar aja perkiraan gw. Setiap 10 detik, gw melontarkan kata 'anjrit', 'damn', 'cici, gila ini bener banget'...urutannya yang mana...tergantung spontanitas saat itu aja. Di saat bersamaan, Cici ikut berkomentar,"Hil, buku ini elo bangetttt. Baca deh yang ini..." Cici dengan sigap merogoh tasnya dan... tadaaaaaaaaaaaaaaaaa... buku yang sama!!! "Bodo ah," kata Cici. Ternyata dia sadar agak risih juga ya kalau dilihat orang sekitar. Coba bayangkan, 2 perempuan duduk di resto, masing-masing memegang buku He's Just Not So Into You, dan membahas buku itu dengan semangat. Kebayang nggak orang-orang yang melihat mikirnya apa? 'Dasar, pasti tuh 2-an barisan sakit hati'. Huhuhuhu.

Malamnya, di rumah, buku itu gw lalap habis. Pikiran gw dibuka banget, dan gw mendapat suntikan spirit baru dalam menghadapi kondisi gw. Malam itu, gw tidur subuh, dengan tekad baru untuk lebih kuat.

Tapi mohon dicatat, pencerahan itu cuma bertahan 3 jam. Paginya, jam 8 pagi, tiba-tiba esia gw bunyi. Setelah sekian lama absen, dia menelepon. Tapi nggak keburu gw angkat. Biasanya gw langsung menelepon balik, tapi gw kan dah punya ilmu baru, jadi gw memutuskan untuk tidur lagi. Eh, baru kepala ini nempel lagi di bantal, tiba2 hp gw bunyi. ada MMS dari dia. Pas MMSnya gw buka, lutut gw langsung lemes, dia mengirimkan foto gw b2 dia pas new year's eve, dengan message 'Pagi Gendut...Piye Kabare'. Ilmu dari He's Just Not So Not Into You langsung luluh lantak, nggak berguna...Huaaaa kangennnn .

Jadi kesimpulannya:
Sebagus2nya buku He's Just Not So Into You, ilmu si dia jauh lebih tinggi!!